Home  |  About Indonesia  |  Our Embassy  | Consular Information  Education | Media/Press |Other Link |

INDUSTRI

 
UMUM

PERMINYAKAN

KEUANGAN PERBANKAN

PERTANIAN& PENGAIRAN

PARIWISATA 

KEBIJAKAN EKONOMI LUAR NEGERI

BILATERAL

REGIONAL

MULTILATERAL

          Perkembangan Sektor Industri

 I.       Peranan  Kementerian Perdagangan dan  Industri.                                                      

Kementerian Perdagangan dan Industri   bertanggungjawab   dalam pengembangan   sektor  industri   melalui  pengaturan,   pengawasan dan pengendalian. Sedangkan The Royal Commission for Jubail and Yanbu, The Saudi Industrial Development Fund dan the Saudi Consulting House memberi dukungan kepada Kementerian dalam pelaksanaan kebijaksanaan dan program.

Tahun 2001 merupakan tahun kedua pelaksanaan Rencana Pembangunan Lima Tahun (REPELITA) ke- VII  Arab Saudi yang   dimulai  pada  tahun 2000 sampai dengan tahun  2004. Kementerian  Perdagangan dan Industri   bertanggung jawab  terhadap pelaksanaan kebijaksanaan dan program sektor Perindustrian   yang  telah ditetapkan pada REPELITA ke- VII tersebut.

        

II.        Permasalahan Sektor Industri

            Masalah pokok yang dihadapi Arab Saudi dalam pengembangan sektor industri adalah :

 1.    Terbatasnya tenaga kerja Saudi terlatih.

       Sektor industri masih besar ketergantungannya dengan tenaga kerja asing, oleh karena terbatasnya tenaga kerja Saudi terlatih serta upah rendah dari tenaga kerja non-Saudi.

 2.   Insentif untuk industri kecil.

       Industri kecil tidak menikmati insentif seperti yang diperoleh industri besar serta tidak ada lembaga yang menanganinya secara khusus. Industri kecil juga sulit memperoleh modal kerja.                                                    

 3.   Insentif. 

       Insentif  yang diberikan pemerintah harus efektif mendorong pembangunan  sektor industri dan mampu  menarik investasi baru, serta pemberiannya harus sesuai dengan standar internasional ( WTO).

4.    Industri berorientasi ekspor.

       Ekspor hasil industri masih kecil yaitu sekitar 36% dari total ekspor, karenanya diperlukan pembangunan industri-industri baru yang berorientasi ekspor serta lembaga penunjang industri berorientasi ekspor.     

5.    Polusi industri.

       Ancaman bahaya polusi industri baik emisi gas maupun limbah cair dengan makin berkembangnya kegiatan industri.      

6.    Investasi asing.

       Investasi asing di proyek industri cenderung menurun, bahkan di tahun 2000 hanya 5% dari seluruh  proyek industri baru.

 7.   Efisiensi produksi.

       Pemanfaatan tanah pada kawasan industri di Riyadh, Jeddah dan Dammam oleh pembangunan  industri sangat tinggi,  demikian  pula    pemanfaatan kapasitas   energi  dan  air  yang terpasang di kawasan industri jubail dan Yanbu.                                                                                                                                                      

8.    Peranan swasta.

      Pertumbuhan industri yang dimiliki swasta sangat tinggi. Pemerintah sedang mempertimbangkan untuk membuka bidang pertambangan, oil refinery dan industri gas serta industri barang modal bagi pemodal swasta.

Tujuan pengembangan

            Tujuan pokok pembangunan industri pada Pelita-VII adalah   :

1.   Meningkatkan kontribusi sektor industri pada GDP dan diversifikasi kegiatan ekonomi.

2.   Meningkatkan keterkaitan sektor industri dengan sektor ekonomi lainnya.

3.   Keseimbangan pembangunan industri antar wilayah sesuai dengan kemampuan SDA dan SDM serta faktor pertumbuhan yang dimilikinya.

4.   Meningkatkan sumbangan ekspor hasil industri pada ekspor nasional.

5.   Membangun lebih banyak proyek usaha patungan industri antara Arab Saudi, negara GCC, negara Arab dan negara Islam.

6.   Meningkatkan produktivitas dan daya saing industri.

7.   Memberi lebih banyak lapangan kerja bagi warganegara Saudi dan meng-gantikan pekerja asing.

8.   Membangun industri yang berwawasan lingkungan hidup.

 IV.       Kebijaksanaan.

            Sasaran pembangunan industri tersebut akan dicapai dengan langkah kebijaksanaan sebagai berikut:      

  1. Memperluas secara horisontal dan vertikal pada industri petrokimia dan industri   turunan dari minyak dan gas.

  2. Memperbanyak studi-studi peluang investasi serta studi kelayakan proyek-proyek, kemudian meyakinkan investor atas hasil studi tersebut.

  3. Memberi peluang kepada swasta untuk menanam modal di oil refinery dan industri gas, dan mendorong pembentukan perusahaan patungan dibidang ini.

  4. Melanjutkan peyebaran informasi industri serta data statistik mutahir yang merupakan hasil survey industri yang berkesinambungan.

  5. Membuat peraturan dan ketentuan-ketentuan yang diperlukan untuk mengembangkan industri kecil, serta melaksanakan studi dukungan permodalannya maupun studi untuk mengatasi permasalahan khusus yang dihadapi.

  6. Memperluas pembangunan kota-kota industri di daerah-daerah yang memiliki potensi pertumbuhan industri, dan mengundang partisipasi swasta dalam pembangunan, pengelolaan maupun pemeliharaannya.

  7. Melaksanakan studi potensi pasar, mendorong kegiatan pemasaran, penelitian dan promosi produk  serta mengembangkan cara-cara untuk mengekspor produksi nasional.    

  8. Menarik investasi asing dengan teknologi modern dan mengembangkan undang-undang investasi modal asing.    

  9. Mendorong dan mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan yang dilaksanakan di perusahaan industri milik swasta.      

  10. Meningkatkan  pemanfaatan kapasitas produksi terpasang dan memperbaiki  standar efisiensi ekonomi dari perusahaan industri.     

  11. Mendorong industri nasional untuk mempersiapkan diri serta mengembang -kan program-program pelatihan/training bagi tenagakerja Saudi serta mem-perbanyak jumlah tenagakerja warganegara Saudi di pabrik-pabrik. 

  12. Melakukan perlindungan lingkungan hidup dari polusi industri dan memonitor alat-alat produksi yang dipergunakan agar tidak melampaui batas  kemampu-an sumberdaya alam yang tersedia.

V.      Program. 

Program   sector     industri    dititikberatkan   untuk menjamin terjadinya percepatan pertumbuhan industri, meningkatnya   peluang  investasi industri, memacu investasi swasta domestik dan asing dan memperluas  jasa   pelayanan dan konsultasi teknis. Program ini juga   menekankan  dilaksanakannya   berbagai studi   dan survey untuk memberikan informasi kepada investor  tentang peluang  investasi  di sektor industri, peraturan-peraturan yang terkait dengan investasi asing, penyederhanaan prosedur,  kota-kota industri dan pelatihan-pelatihan tenaga kerja nasional yang diarahkan untuk meningkatkan produktivitas kerja. 

VI.      Sasaran PELITA –VII 

Sektor industri diproyeksikan tumbuh sebesar 5,14 % pertahun, yaitu industri petrokimia tumbuh 8,29 %, industri oil refinery 1,05 % dan industri manufaktur lainya sebesar 7,16 % pertahun pada harga konstan tahun 1994.  

Pada Pelita VII diharapkan dapat dicapai sebagai berikut : 

-     Pemberian ijin sekitar 3000 industri baru dengan nilai investasi sekitar US$ 16 milyar.

-     Pemberian ijin sekitar 150 industri baru yang merupakan industri patungan asing dengan nilai investasi sekitar US$ 1,7 milyar.                                              

-     693 pabrik baru berproduksi dengan nilai investasi US$ 4,8 milyar. 

VII.    Perkembangan sektor industri 

Industri Arab Saudi memiliki 4 katagori yaitu   : 

            Katagori    I     :        Industri Perminyakan dan Gas.

                                            Di tangani oleh ARAMCO, Perusahaan Nasional Minyak & Gas  (mulai dari  eksplorasi, produksi,refinery, pemasaran dan distribusi )

            Katagori   II     :       Industri Dasar : Petrokimia, pupuk. kimia, besi dan baja. Ditangani oleh Saudi Basic Industry Company (SABIC), perusahaan nasional yang melaksanakan patungan (Joint Venture dengan swasta asing / lokal). 

            Katagori  III     :        Industri manufacturing,   di dominasi  swasta

            Katagori   IV   :        Usaha  kecil 

           Perkembangan sektor industri sangat pesat, pada akhir tahun 2000 berhasil memberi kontribusi kepada GDP non-minyak sebesar 13,9%. Industri petrokimia memberi kontsribusi kepada GDP sebesar 9,9%, industri oil refinery  kontribusi 37,8% sedangkan industri manufacturing lainnya sebesar 52,3%. 

           Sampai dengan akhir tahun 2001, industri  yang telah berproduksi sebanyak 3481 industri / pabrik (diantaranya 1908 pabrik  joint  venture ), yaitu meliputi 949 pabrik metal & mesin, 708 pabrik  plastik  &  kimia, 575 pabrik  konstruksi, keramik, gelas, 555 pabrik makanan & minuman, 183 industri furniture,177  Industri tekstil dan pakaian jadi, 221 industri kertas dan percetakan,87  industri aneka, 26 industri transportasi dan penyimpanan. Nilai investasi mencapai US$  66,04  milyar. Nilai produksi pada tahun 2000 mencapai US$  20,6  milyar , dimana sebesar US$ 14,0 milyar ( 68%) untuk pasar dalam negeri sedangkan sisanya US$ 6,6 milyar (32%) di ekspor.  Dari total nilai ekspor, maka produk petrokimia merupakan 34% dari total ekspor, sedangkan sisanya 66% merupakan hasil industri manufaktur. 

           Saudi Industrial Development Fund (SIDF) sebagai lembaga penunjang sektor industri, telah mampu membiayai sebanyak 271 proyek industri  sebesar US$ 2,2  milyar, dan masih terdapat 340 proyek yang sedang dievaluasi untuk dibantu pembiayaannya. Dalam hal pembangunan kawasan industri dan kota industri, maka sampai saat ini kota industri Jubail dan Yanbu telah diisi oleh 23 industri dasar, 26 industri antara dan 132 industri pendukung dan industri ringan. Dilain pihak pada 8 kawasan industri yang dibangun di kota Riyadh, Jeddah, Makkah, Qassim dan Al-Hasa, saat ini telah menempati seluas 41 juta meter persegi, dimana 95% telah diisi oleh kegiatan industri. Terdapat 4 kawasan industri baru sedang dibangun di kota Madinah, Assir, Jouf dan Tabuk. 

           Pemerintah juga mengembangkan program offset, dimana telah dicapai  8 buah perjanjian kesepakatan dengan pemerintah Perancis, Inggris dan beberapa perusahaan multinasional. Perjanjian ini bersisi kesepakatan bagi pendirian 15 perusahaan dalam bidang penerbangan, elektronik, telekomunikasi dan industri teknologi tinggi lainnya. Sampai saat ini  modal yang  ditanamkan dalam per-usahaan-perusahaan ini mencapai US$ 713 juta. 

           Dalam rangka meningkatkan partisipasi swasta dalam sektor industri serta swastanisasi beberapa bidang industri telah dibentuk the Saudi Joint Stock Company for Services untuk kota industri Jubail dan Yanbu berdasarkan Keputusan Dewan Menteri No: 57 tanggal 28.3.1420.  

VIII.           Kerjasama Industri RI- Arab Saudi. 

1.    Investasi industri.

Sampai saat ini terdapat 1 industri di Arab Saudi yang sahamnya dimiliki Indonesia yaitu perusahaan dengan nama Pinehill Arabia Food Ltd. di kota Jeddah yang memproduksi instant noodless.

Sedangkan investasi Arab Saudi di Indonesia  meliputi 8 buah  industri yaitu industri separasi warna, Industri mesin pengolahan pangan, industri pupuk, industri furniture, Industri kilang minyak dan industri gas. 

2.    Kerjasama industri.

Dalam sidang Komisi Bersama RI-Arab Saudi ke VII tanggal 6-7 Agustus 2003, telah disepakati adanya hubungan saling melengkapi dari potensi industri kedua Negara yaitu

  • Pertukaran tenaga ahli.    

  • Kerjasama dalam pengembangan teknologi industri.    

  • Kerjasama dalam pelatihan perusahaan kecil dan menengah dikedua Negara.    

  • Kerjasama dalam laboratorium pengujian untuk menunjang perdagangan kedua   Negara.,   

  • Dsb. 

IX      Peluang peningkatan kerjasama industri RI - Arab Saudi. 

          Peluang kerjasama industri antar kedua negara cukup besar yaitu dalam bidang : 

1.   Tenaga akhli industri kedua pihak diberi kesempatan menangani pembangunan pabrik pabrik di negaranya masing masing terutama dalam pembangunan pabrik produk industri dasar seperti petrokimia, logam dan baja, kimia dsbnya.

2.    Suplai bahan baku industri.

3.    Pelatihan tenaga kerja/akhli untuk keahlian khusus industri tertentu.

4.    Pertukaran informasi teknologi yang dikembangkan masing-masing dan standar industri. 

IX.      Kesimpulan dan Saran. 

Kesimpulan 

1.   Sektor industri di Arab Saudi berkembang dengan pesat terutama dipacu oleh pesatnya perkembangan industri petrokimia. Dalam PELITA ke-VII ( tahun 2000 s/d 2004), sektor industri ditargetkan tumbuh rata-rata 5,14% pertahun. 

2.   Nilai produksi industri pada tahun 2000 mencapai US$ 20,6 milyar, dimana sekitar 68% atau US$ 14,0 milyar untuk pasar dalam negeri sedangkan 32% atau US$ 6,6 milyar diekspor. Produk petrokimia merupakan 34% dari total ekspor hasil industri. 

3.   The Saudi Industril Development Fund (SIDF) adalah sebuah lembaga khusus yang dibentuk untuk menunjang pembiayaan sektor industri. SIDF telah membiayai 271 proyek dengan nilai dana yang disalurkan sebesar US$ 2,2 milyar.

4.   Investasi Indonesia dibidang industri di Arab Saudi ada 1 proyek yaitu dalam bidang produk pangan (instant noodles), sedangkan investasi Arab Saudi di Indonesia ada 8 proyek yaitu dibidang industri mesin, industri separasi warna, industri furniture, industri pupuk, kilang minyak dan industri gas. 

Saran 

1.   Akhir-akhir ini minat investasi Arab Saudi di Indonesia di bidang industri cukup besar. Perlu dilakukan kegiatan roadshow investasi ke Arab Saudi setiap tahun untuk menawarkan peluang proyek investasi baru dan penjualan saham perusahaan industri di Indonesia.

2.   Komisi Bersama Ekonomi Indonesia - Arab Saudi  kiranya perlu diaktifkan, terutama untuk penjajagan penawaran proyek investasi, kerjasama teknik dan pelatihan serta untuk mendiskusikan berbagai hambatan dalam peningkatan kerjasama investasi dan industri.

                                                                  Riyadh,  Pebruari 2004 

                                                                                    Atperindag  -  Riyadh

      

       Saudi Basic Industries Corporation (SABIC)

Saudi Basic Industries Corporation (SABIC) yang didirikan tahun 1976 merupakan perusahaan industri terbesar di Saudi dengan modal mencapai SR. 10 triliun (US$ 2,66 triliun) dan telah berhasil memasuki tahap baru dalam usaha meningkatkan posisinya di antara perusahaan-perusahaan dunia. SABIC berusaha mendapatkan kesempatan berinvestasi diluar negeri khususnya di negara-negara maju . Dalam usia 25 tahun perusahaan SABIC telah berhasil membangun dan mengembangkan 18 Kawasan Industri yang setaraf teknologi internasional dengan didukung oleh jaringan pemasaran yang menyebar di berbagai negara. Tujuan strategis SABIC dalam pembangunan nasional Saudi adalah sbb:

-    Alih teknologi modern dunia ke Arab Saudi dan mempersiapkan generasi Saudi yang mampu menjalankannya.

-      Investasi sumber-sumber negara dari hedrokarbonat dan tambang, menghindari terjadinya fluktuasi harga bahan baku di pasar dunia serta pengaruhnya terhadap kestabilan ekonomi nasional.

-      Membentuk dasar yang kuat bagi produksi dasar, secara bertahap mengurangi impor dan memberikan motivasi kepada sektor swasta untuk melakukan investasi dalam sektor industri.

-     Bergabung dengan industri dunia, membuka jalur-jalur pemasaran baru dan diversifikasi sumber penerimaan negara selain minyak.

Ekspor SABIC merupakan 70% dari total ekspor non-minyak Arab Saudi. Sejak berdirinya SABIC telah meraih keuntungan SR. 28,4 milyar (US$ 7,57 milyar), dengan SR. 19,9 (US$ 5,03 milyar) yang disetorkan kepada kas negara.

 

Hasil-hasil lain yang telah dicapai SABIC

-     Pembelian hak milik pabrik-pabrik bertaraf internasional di Eropa dan AS. Di Belanda 2 perusahaan, Jerman & AS masing-masing 2 perusahaan. Disamping itu SABIC juga memiliki saham di perusahaan pipa raksasa di barat laut Eropa, saham di perusahaan-perusahaan Cina, Malaysia, hak milik izin usaha dan kantor-kantor penjualan di Belgia, Denmark, Spanyol, Itali, Jerman, Inggris dan Turki dengan nilai 2,25 milyar EURO.

Dengan kepemilikan tsb SABIC berhasil menduduki posisi ke-11 dari perusahaan-perusahaan petrokimia dunia, posisi ke-3 dari perusahaan-perusahaan yang memproduksi polyethylene dan posisi ke-4 dalam produksi polypropylene.

-     SABIC pada tanggal 3 April 2002 mengumumkan telah mencapai kesepakatan pembelian Perusahaan Belanda, DSM, Perusahaan Produksi Petro Kimia yang terbesar di Timur Tengah. Kesepakatan mencakup semua saham perusahaan DSM, kegiatan perusahaan di Belanda & di luar negeri, pusat teknologi, hak cipta, merek dagang dan kantor-kantor kegiatan jual beli di berbagai negara. Kesepakatan tersebut juga mencakup pembelian perusahaan DSM hydrocarbons, DSM polyethylenes, German unit DSM polylefine, US companies DSM hydrocarbons dan DSM polypropylenes Amerika Selatan.

Ir. Muhammad bin Hamd Al-Madhy mengatakan bahwa kesepakatan ini akan meningkatkan kemampuan strategi dan ekonomi SABIC dalam rangka menyiapkan diri untuk membangun pusat dagang yang kuat di pasar Eropa dan menjadi pemain utama di pasar dunia.

      

       Posisi perusahaan-perusaan Saudi di antara perusahaan- perusaan GCC

Shoua'a Capital Company yang berkedudukan di Dubai menyebutkan bahwa perusahaan-perusahaan Arab Saudi mendominasi 10 terbesar dari 150 perusahaan GCC. Nilai pasar 150 perusahaan tersebut mencapai US$ 152,4 milyar dengan keuntungan mencapai 23% yaitu US$ 8,53 milyar dalam 12 bulan terakhir. Saudi Basic Industries Corporatioan (SABIC) tetap menduduki tempat pertama dengan nilai pasar 8,6%, sekalipun menurun dibandingkan nilai pasar tahun lalu sebesar 11% dari total nilai pasar dari 150 perusahaan GCC tersebut. 

 

 

Copright@2001, Embassy of the Republic Indonesia Riyadh