Home  |  About Indonesia  |  Our Embassy  | Consular Information  Education | Media/Press |Other Link |

BILATERAL

 
UMUM

PERMINYAKAN

KEUANGAN PERBANKAN

PERTANIAN& PENGAIRAN

PARIWISATA 

KEBIJAKAN EKONOMI LUAR NEGERI

INDUSTRI

REGIONAL

MULTILATERAL

1.    Dengan negara-negara maju

a.    Arab Saudi - Amerika Serikat (AS)

Arab Saudi memainkan peranan penting dalam memasok minyak yang digunakan AS untuk menggerakkan perekonomiannya.

-   Pengaruh tragedi 11 September terhadap hubungan ekonomi Saudi - AS

Insiden 11 September dan dukungan mutlak AS kepada Israel telah mengakibatkan kerusakan besar hubungan ekonomi AS-Arab Saudi sebagai mitra dagang utama AS di Timur Tengah.

Beberapa fakta berikut dapat menjadi indikasi sejauh mana pengaruh tragedi 11 September terhadap hubungan ekonomi kedua negara.

-- Angka-angka resmi menunjukkan bahwa indek perdagangan dua negara menurun sampai 40% dan kunjungan warga Saudi ke AS menurun sampai ke batas yang tidak pernah terjadi selama ini. Menurut statistik resmi AS dalam catur wulan pertama tahun 2002 ekspor AS ke Arab Saudi menurun 43% yaitu US$ 1,3 milyar dibandingkan US$ 2,3 milyar pada periode yang sama tahun 2001. Ekspor Saudi ke AS dalam periode yang sama menurun 28% yaitu US$ 3,5 milyar dibandingkan US$ 4,9 milyar untuk periode yang sama tahun 2001. Minyak masih merupakan ekspor utama (95%) Saudi ke AS.

Kedubes AS di Riyadh menyebutkan bahwa jumlah kunjungan warga Saudi ke AS menurun 10% dan kunjungan pengusaha menurun 40%. Namun sumber-sumber industri wisata menyebutkan bahwa angka penurunan jauh lebih besar dari data Kedubes AS tersebut.

Impor minuman dan rokok dari AS dalam bulan April 2002 menurun 92% yaitu US$ 1,1 juta dibandingkan US$ 26 juta dalam periode yang sama tahun 2001. Sementara ekspor Saudi ke AS untuk periode yang sama mencapai US$ 13,2 milyar. Arab Saudi adalah negara pengimpor kedua terbesar dari AS sesudah Israel.

-- Ekspor AS ke Arab Saudi masih mengalami fluktuasi sejak kuartal terakhir tahun 2001 yaitu untuk Oktober sebesar US$ 397,9 juta, September US$ 520,5 juta, Nopember US$ 480,9 juta dan Desember 2001 US$ 4306 juta. Total ekspor AS ke Arab Saudi hingga akhir tahun 2001 sebesar US$ 5,97 milyar dibandingkan US$ 6,2 milyar tahun 2000. Memasuki tahun 2002 fluktuasi tersebut masih berlangsung dimana untuk bulan Janauari 2002 sebesar US$ 281 juta, Pebruari US$ 328,5 juta, dan US$ 376,4 untuk bulan Maret.

-- Sekitar 300-400 keluarga korban tragedi 11 September mengajukan tuntutan ganti rugi terhadap beberapa lembaga keuangan, organisasi dana sosial dan beberapa orang pangeran anggota keluarga Kerajaan Saudi dengan tuduhan mendanai terjadinya peristiwa tersebut.

Lembaga-lembaga keuangan yang dituduh adalah Al-Barakah Investment and Development Corporation, National Commercial Bank, Faisal Islamic Bank, Al-Rajhi Banking and Investment Corporation, Al-Barakat Exchange, Dar Al-Maal Al-Islami dan Al-Shamal Islamic Bank. Sementara organisasi-organisasi dana sosial yang tertuduh adalah the International Islamic Relief Organization (IIRO), Sanabel Al-Khair Inc., Moslem World League, Saar Foundation, Rabitah Trust, Al-Haramain Islamic Foundation, the World Assembly of Muslim Youth (WAMY) dan tiga orang pangeran keluarga Kerajaan Arab Saudi.

Ganti rugi yang diminta mencapai lebih dari US$ 1,16 trilliun. Jumlah tersebut jauh lebih besar dari volume dana Saudi yang diinvestasikan di Amerika dan Eropa sebesar US$ 600-700 milyar atau berlipat-lipat ganda dari GDP Arab Saudi sebesar US$ 165,33 milyar.

-- Penarikan dana Saudi besar-besaran dari Amerika Serikat

Ditengarai warga Saudi banyak yang menarik dana mereka dari AS secara besar-besaran dan memindahkannya ke Eropa dan kawasan-kawasan lainnya. Namun sumber the Saudi Arabian Monetary Agency (SAMA) menolak adanya transfer besar-besar dari luar negeri ke bank-bank Saudi baik dari AS maupun dari negara lainnya. SAMA menegaskan kebenaran penarikan dana itu hanya sebesar US$ 200 milyar.

Penarikan tersebut disebabkan goyahnya kondisi ekonomi, skandal beberapa perusahaan AS, adanya tanda-tanda kehancuran ekonomi AS, gerakan investasi yang semakin sulit, ancaman terus menerus Pemerintah AS terhadap sel-sel teroris dan kerugian pasar saham sebelum 11 September. Ditegaskan pula bahwa pemindahan dana tersebut disebabkan oleh faktor ekonomi semata dan tidak ada hubunganya dengan politik.

-- Wisatawan Saudi ke AS merosot tajam

Kantor-kantor Perwakilan Perjalanan Wisata (Travel Agent) Arab Saudi mengemukakan beberapa fakta tentang pengaruh tragedi 11 September terhadap sektor pariwisata kedua negara a.l. sbb:

--- Wisatawan Saudi ke AS tahun 2002 menurun 80%. Sementara wisatawan Saudi ke Asia, Eropa & negara-negara Arab meningkat. Untuk semester pertama tahun 2002 saja, perjalanan wisata Saudi ke AS menurun 48% dibanding periode yang sama tahun 2001.

--- Penerbangan "Saudia" mengurangi frekwensi penerbangannya ke AS dari 8 kali menjadi 2 kali per minggu. Namun volume wisatawan Saudi ke luar negeri umumnya justru mengalami kenaikan 3-5%.

--- Warga Saudi mengalihkan perjalanan wisata mereka ke kawasan lain seperti Kuala Lumpur, Kairo, Beirut, Dubai, Paris, Australia, dll. Dubes Malaysia untuk Arab Saudi, Wan Mukhtar menegaskan bahwa wisatawan yang datang dari Saudi ke Malaysia pada tahun 2000 sebanyak 13 ribu orang, tahun 2001 sebanyak 35 ribu orang & diperkirakan untuk tahun 2002 meningkat sampai 80 ribu orang.

-- Statistik resmi Perdagangan Luar Negeri AS menyebutkan bahwa ekspor AS ke Arab Saudi pada bulan Agustus 2002 mencapai US$ 405 juta dengan penurunan sebesar US$ 5,5 juta dibandingkan bulan sebelumnya. Total ekspor AS dalam 8 bulan pertama tahun 2002 sebesar US$ 3,04 milyar. Jumlah tersebut lebih kecil dibandingkan ekspor AS ke Saudi untuk periode yang sama tahun 2001 sebesar US$ 4,27 milyar atau mengalami penurunan 26,4 %. Sementara ekspor Saudi ke AS sebesar US$ 1,2 milyar atau mengalami penurunan dibanding periode yang sama tahun 2001 sebesar US$ 1,8 milyar.

-- Para diplomat dan ahli ekonomi mengatakan bahwa boikot tersebut telah menyebabkan pembelian komoditi AS dan impor AS ke Arab Saudi menurun tajam. Dalam keterangan-keterangan resmi AS nampak jelas bahwa ekspor AS ke Arab Saudi menurun sampai 33% menjadi US$ 2,8 milyar untuk periode dari September 2001 sampai Maret 2002. Sedangkan untuk kuartal pertama tahun 2002 saja ekspor AS ke Arab Saudi menurun sampai 43% menjadi US$ 986 juta dari US$ 1,74 milyar untuk periode yang sama tahun 2001. Para konsumen mengalihkan pembelian mereka kepada produk-produk Eropa, Jepang dan mereka mendukung kampanye boikot anti produksi AS termasuk kebutuhan rumah tangga, mobil, bahan makanan, minuman dan restoran siap saji sebagai protes mereka atas keberpihakan AS kepada Israel. Disamping itu juga adanya kampanye anti Saudi oleh sebagian anggota konggres dan pers AS  pasca serangan 11 September.

-   Usaha mengatasi pengarauh tragedi 11 September

Sungguhpun tragedi 11 September telah memberi banyak pengaruh negatif terhadap hubungan ekonomi kedua negara, namun AS masih tetap merupakan mitra dagang utama Saudi dan menduduki tempat pertama diantara negara-negara eksportir dunia ke Saudi yaitu mencapai US$ 5 milyar dan menduduki tempat kedua diantara negara-negara pengimpor dari Arab Saudi dengan nilai US$ 7 milyar. Berbagai langkah Pemerintah Saudi untuk tetap mempertahankan hubungan ekonomi kedua negara, sbb:

-- Pada tanggal 19 Pebruari 2002 Tim Perundingan Arab Saudi yang dipimpin oleh Menlu, Saudi Al-Faisal mengadakan pertemuan di Los Angeles dg Perusahaan-perusahaan Minyak Dunia dan Ketua Eksekutif Perusahaan Exxon Mobil, Lee Roymond. Diperkirakan Perusahaan Exxon Mobil memainkan peranan utama dalam kesepakatan yang ditandatangani bersama 8 perusahaan minyak raksasa asing di bawah pimpinan Exxon Mobil's 8 bulan yang lalu untuk menginvestasi modal awal sebesar US$ 25 milyar. Sesuai kesepakatan awal Perusahaan Exxon Mobil akan memegang peranan penting dalam proyek Ladang Selatan Al-Ghawwar di pantai teluk Arab dengan modal US$ 15 milyar bekerjasama dengan Perusahaan Royal DutchShell, Prance Petroleum dan Philips Petroleum.

Exxon  juga akan melaksanakan proyek pengembangan Gas di Laut Merah bekerjasama dengan Occidental dan Marathon dengan biaya US$ 5 milyar. Sedangkan Perusahaan Shell memainkan peranan pokok dalam pengembangan sumur As-Syibah dengan perkiraan biaya US$ 5 milyar bekerjasama dengan perusahaan Conoco dan Total FinaElf.

-- Saudi tidak akan memboikot komoditi Amerika Serikat

Dalam menanggapi adanya seruan beberapa pihak untuk memboikot komoditi AS, Menteri Industri & Listrik, Hasyim Yamani mengatakan bahwa mereka yang menyerukan pemboikotan terhadap produksi AS dan produk lokal yang bekerjasama dengan AS hendaknya menoleh kepada kepentingan para investor lokal yang ikut memainkan peranan dalam meningkatkan perekonomian nasional dengan industri yang bermanfaat bagi para konsumen.

Produksi lokal akan memberikan andil dalam menciptakan keseimbangan neraca perdagangan internasional dan menghasilkan tabungan (saving) sebesar US$ 21,3 milyar pertahun. Industri yang beroperasi di Saudi adalah industri nasional dan akan meningkatkan kemampuan ekonomi lokal. Mayoritas pekerjanya adalah warga Saudi.

Berdirinya pabrik-pabrik yang berteknologi tinggi akan membentuk kemampuan bersaing yang tinggi di pasar lokal dan internasional, khususnya nanti setelah Saudi diterima menjadi anggota WTO, maka produksi lokal akan dapat dengan mudah masuk ke pasar-pasar dunia.

b.    Arab Saudi - Jerman

-   Menteri Keuangan & Ekonomi Nasional Arab Saudi, Dr. Ibrahim Al-Assaf dalam Forum Ekonomi Arab Saudi - Jerman di Berlin tanggal 27 Juni 2002 a.l. mengemukakan hal-hal sbb:

-- Jerman menduduki tempat ke-III dari negara-negara eksportir terbesar ke Arab Saudi. Impor Saudi dari Jerman 8% dari total impor. Ekspor Jerman ke Saudi mencapai US$ 2,54 milyar dan impor Jerman dari Saudi sebesar US$ 1 milyar. Sebagaian industri di Saudi pada pokoknya bergantung pada teknologi dan peralatan buatan Jerman.

-- Jumlah proyek bersama Saudi-Jerman tahun 2001 mencapai 89 proyek dengan volume investasi mengalami kenaikan dari US$ 199 juta menjadi US$ 320 juta, namun jumlah tersebut masih terbilang kecil dan tidak mencerminkan pemanfaatan peluang yang ada. 

-   Kedutaan Besar Jerman di Riyadh mengemukakan beberapa data tentang hubungan ekonomi/perdagangan Jerman - Arab Saudi a.l. :

-- Ekspor Jerman ke Arab Saudi untuk semester pertama tahun 2002 mencapai EURO 1,67 milyar (US$ 1,65 milyar) dengan kenaikan 22,4% dibandingkan periode yang sama tahun 2001. Ekspor utama Jerman ke Saudi a.l. mobil, mesin, perlengkapan elektronik, bahan kimia, produk-produk pertanian, perlengkapan teknologi sensitif, dan perlengkapan besi. Sementara impor Jerman dari Saudi terutama minyak mentah dan petrokimia. Ekspor Saudi ke Jerman mengalami kenaikan 4,6%.

-- Di Arab Saudi terdapat 220 perusahaan Jerman melakukan kegiatan usaha. 100 dari jumlah tersebut adalah perusahaan bersama yang melakukan kegiatan dalam sektor perdagangan, industri dengan investasi langsung sebesar EURO 225 juta.

2.    Dengan negara-negara berkembang

a.    Arab Saudi - Rusia

-   Arab Saudi dan Rusia telah membentuk satu Komite Bersama untuk mendukung kerjasama perdagangan, ekonomi dan investasi antara dua negara. Langkah ini diharapkan dapat mengefektifkan peranan keduanya dalam berbagai lapangan khususnya di sektor minyak dunia dan investasi bersama. Neraca perdagangan kedua negara saat ini sangat kecil dan tidak sesuai dengan kedudukan ekonomi Arab Saudi dan Rusia. Menurut statistik Kementerian Industri Saudi tahun 2001, investasi Rusia di Arab Saudi tidak lebih dari SR. 1 juta (US$ 266 ribu) dalam proyek non-industri.

-   Disamping Komite Kerjasama tsb, telah pula ditandatangani kesepakatan pembentukan Dewan Kerjasama Saudi-Rusia yang bertugas khusus menangani dukungan hubungan perdagangan dan investasi antara dua negara.

b.    Arab Saudi - Cina

RRC merupakan mitra terpenting Arab Saudi dalam perdagangan luar negeri. Cina menduduki tempat ke-VII dan 10 negara eksportir terbesar ke Arab Saudi tahun 2000 dan tempat ke-V dari negara eksportir terbesar sampai dengan kuartal ke-3 tahun 2001. Volume ekspor Saudi ke Cina mencapai SR. 5,6 milyar tahun 2000, sementara impor Saudi dari Cina dalam tahun yang sama SR. 1,1 milyar meningkat sampai SR. 3,6 milyar pada kuartal pertama tahun 2001. Menteri Keuangan & Ekonomi Nasional Saudi, Dr. Ibrahim Al-Assaf seusai pertemuannya dengan Deputy PM/Anggota Dewan Negara Cina, Wu Yi tanggal 1 April 2002 mengemuakan a.l hal-hal sbb:

-   Neraca perdagangan dua negara meningkat sampai 5 kali lipat dalam periode 10 tahun terakhir. Kedua negara mengharapkan peningkatan lebih dari apa yang telah dicapai sekarang ini, baik dalam volume ekspor Saudi ke Cina maupun ekspor Cina ke pasar Saudi.

-   Kedua negara telah melakukan pembicaraan untuk menghindarkan pajak berganda, standarisasi dan kwalitas. Sebelumnya tahun 1997 telah ditandatangani kesepakatan proteksi investasi antara Arab Saudi-Cina.

-   Cina adalah negara penting dalam peta internasional. Untuk itu Saudi memberikan perhatian untuk meningkatkan kerjasama dalam semua bidang. Masalah ini akan dibahas pd pertemuan Komite Bersama di Cina, disamping untuk meneruskan pembahasan dasar-dasar kerjasama tsb.

-   Investasi Saudi di Cina tidak lebih dari SR 150 juta dan diperkirakan akan mengalami peningkatan untuk masa mendatang.

c.    Arab Saudi - India

India mengisi kebutuhan tenaga kerja Saudi

Sumber-sumber di Kementerian Tenaga Kerja Arab Saudi menegaskan bahwa kementerian telah menerima permintaan dari para pengusaha Saudi untuk mengizinkan kembali pengisian tenaga kerja India dalam berbagai bidang pekerjaan selain bidang perikanan yang diizinkan sekarang. Ir. Usamah Al-Kurdi, Sekjen Kamar Dagang Saudi menolak pembatalan larangan pendatangan tenaga kerja India sebagai langkah yang bertentangan dengan program saudisasi Pemerintah, melainkan semua studi yang berhubungan dengan saudisasi menegaskan adanya sebagian lapangan kerja yang tidak diminati atau minat pemuda Saudi kurang dari kebutuhan.

Sedangkan strategi untuk terus mengembangkan pertumbuhan ekonomi diperlukan kehadiran tenaga asing, khususnya di lapangan kerja yang kurang diminati warga Saudi.

Untuk itu tenaga kerja India tetap diminati karena telah menunjukkan keaktifan dan pengalaman yang baik dan mereka menghormati adat istiadat dan ajaran Islam disamping upah mereka relatif lebih murah. Langkah ini diambil kendatipun Pemerintah sedang gencarnya melakukan operasi pemberantasan pengangguran, yang a.l. mewajibkan semua perusahaan dan lembaga yang memiliki pegawai 20 orang atau lebih, melakukan saudisasi 5% pertahun. Inisiatif yang diambil Pemerintah ini tidak akan mempengaruhi saudisasi di sektor swasta.

Catatan:

-   Tenaga kerja India menduduki tempat pertama dari jumlah tenaga kerja asing di Arab Saudi. Jumlah tenaga kerja India di Saudi mencapai 1,5 juta jiwa dan bekerja di berbagai lapangan kerja, khususnya tenaga kerja biasa.

-   Menurut perkiraan, jumlah pengangguran di Arab Saudi berkisar 10-15% dari total jumlah pemuda usia kerja. Persentase ini mencakup pengangguran terselubung (disguised unemployment).

d.    Arab Saudi - Iran

-   Arab Saudi telah menyetujui dibukanya kesempatan kerja bagi tenaga trampil Iran dibidang kesehatan. Jumlah warga Iran yang bekerja di negara-negara Teluk lainnya mencapai ratusan ribu. Adapun di Arab Saudi hanya ratusan tenaga kerja saja yang bekerja di sektor pengelolaan restoran. Menteri Tenaga Kerja Saudi, Ali An-Namlah mengatakan bahwa pasar Saudi terbuka bagi semua bangsa dan tidak terdapat kesulitan untuk menerima tenaga trampil dari Iran.

-   Perusahaan Saudi Basic Industries Corporation (SABIC) telah menandatangani satu persetujuan dengan perusahaan Iran "BCCI" tentang ekspor 500 ribu ton methyl tertiary butyl ether (MTBE) ke Iran dalam periode 5 tahun mendatang. Persetujuan tersebut dilakukan sesuai dengan usaha Iran untuk mengatasi polusi udara dengan menggunakan bahan bakar tanpa kandungan timah (unleaded fuel). 

e.    Arab Saudi - Iraq

Kerjasama Ekonomi Arab Saudi-Iraq yang sejak perang Teluk 1991 mengalami kemacetan, pada tahun 2002 memperlihatkan tanda-tanda positif dengan pulihnya kembali hubungan dagang kedua negara. Hal ini a.l. ditandai dengan adanya pameran dagang dua negara di Baghdad tanggal 1-10 Nopember 2002 yang diikuti oleh 60-70 perusahaan Saudi.

Keikutsertaan Saudi tersebut merupakan suatu kesempatan untuk meningkatkan hubungan perdagangan antara dua negara, apalagi Iraq merupakan pasar yang potensial bagi ekspor Saudi. Dalam pameran tersebut telah ditandatangani perjanjian dagang sebesar US$ 300 juta. Pada tgl 30 Oktober 2002 Irak telah menyetujui registrasi perusahaan-perusahaan Saudi yang berkeinginan untuk mengekspor produksinya dalam program "oil for food" melalui pusat pengembangan ekspor.

f.     Arab Saudi - Yordania

Menteri Industri & Perdagangan Yordania, Shalah Basyir dalam Forum Diskusi Investasi Arab Saudi-Yordania pada tanggal 22 September 2002 di Amman a.l. mengemukakan tentang kuatnya hubungan ekonomi & perdagangan kedua negara dan mengalami berkembang yang menonjol dalam beberapa tahun terakhir. Arab Saudi merupakan mitra perdagangan terbesar Yordania.

 Volume ekspor Yordania ke Saudi tahun 2001 mencapai 96 juta Dinar, sementara impornya dari Saudi mencapai 111 juta Dinar. Diperkirakan neraca perdagangan antara kedua negara mencapai 207 juta Dinar (US$ 287 juta). Sementara Kepala Dewan Administrasi KADIN Tabuk, Abdullah bin Abdul Muhsin Al-Bazi'I mengatakan bahwa proyek investasi bersama kedua negara mencapai 127 buah, dan 111 proyek diantaranya adalah proyek industri dengan total modal SR. 3590 juta.

g.    Arab Saudi - Tunisia

Menteri Perdagangan Arab Saudi, Usamah Faqih dan Menteri Pembangunan & Kerjasama Internasional Tunis, Muhammad An-Nuri dalam Pertemuan Komite Kerjasama Saudi-Tunisia pada tanggal 18 Desember 2002 di Riyadh telah menandatangani beberapa kesepakatan yaitu :

-   Pembentukan Dewan Kerjasama antara para pengusaha kedua negara yang bertujuan untuk meningkatkan hubungan kedua belah pihak dan meningkatkan volume proyek bersama yang mana kedua negara menganut sistem ekonomi bebas (liberal).

-   Kerjasama antara Badan Standarisasi Arab Saudi dengan Institute Standarisasi Nasional Tunis.

-   Kesepakatan antara Pusat Pengembangan Ekspor Saudi dan Tunis.

Menteri Perdagangan Saudi mengatakan bahwa pertemuan Komite Bersama dua negara telah memberikan hasil dan kesepakatan yang akan membantu efektifitas jalur-jalur kerjasama bilateral pada sektor Pemerintah dan swasta. Penandatangan kesepakatan-kesepakatan tersebut akan dapat meningkatkan kerjasama ekonomi dan perdagangan ke tingkat yang sesuai dengan aspirasi pimpinan dua negara.

 

 

Copright@2001, Embassy of the Republic Indonesia Riyadh