|
|
|
|
| Home | About Indonesia | Our Embassy | Consular | Information | Education | Media/Press |Other Link | |
|
|
PERMINYAKAN |
|
| UMUM KEUANGAN PERBANKAN PARIWISATA BILATERAL MULTILATERAL |
1. Posisi
minyak dalam perekonomian Arab Saudi Ekonomi
Saudi berpegang pada sektor minyak dan gas. Minyak merupakan 75%
dari penerimaan pemerintah, 90% ekspor negara, dan 35-45% GDP.
Tahun 2001 produksi minyak Saudi per hari 8,2 juta barel. Volume
ini mengalami penurunan menjadi 7 juta barel per hari bulan
Januari 2002 karena menjalankan keputusan negara-negara produsen
minyak OPEC dan Non-OPEC untuk mengurangi produksi sebesar 2
juta barel per hari dengan tujuan memantapkan (menstabilkan)
harga. 2. Usaha
Saudi untuk stabilitas harga pasar Dewan
Tertinggi Perminyakan, the Supreme Petroleum Council (SPC) dalam
sidangnya di Thaif (Arab saudi) tanggal 30 Juli 2002 menegaskan
akan terus menjalankan kebijakan untuk merealisasikan kestabilan
pasar pada harga yang rasional, menjaga kepentingan
negara-negara produsen, konsumen serta stabilitas ekonomi dunia.
Menteri Minyak Arab Saudi, Ali Ibrahim An-Naimi menegaskan bahwa
kebijaksanaan perminyakan Saudi selalu difokuskan untuk
kestabilan minyak dunia dengan keseimbangan antara permintaan
dan penawaran serta kestabilan harga pada tingkat yang pantas
bagi produsen dan konsumen. 3. Perkembangan
sektor minyak Wakil
PM I / Putera Mahkota, Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz pada
tanggal 27 Agustus 2002 meresmikan lokasi cadangan strategis
minyak Saudi di Jeddah. Proyek ini memainkan peranan penting dan
vital bagi Saudi. Di masa damai dapat memenuhi semua kebutuhan
nasional produksi minyak. Sedangkan pada masa darurat perang
dapat memenuhi kebutuhan Angkatan Bersenjata dan kebutuhan
sektor-sektor sipil yang vital seperti sektor pertanian,
industri dan transportasi. Cadangan
strategis ini terdapat pada 5 lokasi yaitu Riyadh, Jeddah, Qasim,
Al-Madinah Al-Munawwarah dan Abha. Pembangunan kelima lokasi
tersebut menelan biaya SR. 11 milyar, yang dapat menyimpan 12
juta barel minyak. Manfaat ekonomis dari cadangan strategi
minyak Saudi tersebut a.l. memenuhi kebutuan produksi minyak di
musim haji, memenuhi kebutuhan pasar ketika dilakukan
pembersihan berkala pada pusat penyulingan dan kebutuhan ketika
terjadi kerusakan tiba-tiba. Wkl.
PM II/Menhan Sultan bin Abdul Aziz dalam keterangannya
mengatakan bahwa pembangunan cadangan strategi minyak Saudi
tidak ada hubungannya dengan keadaan perang atau damai, tetapi
untuk melayani dan menjamin kebutuhan bahan bakar rakyat Saudi. 4.
Perkembangan sektor gas Laporan
Aramco-Saudi mengemukakan bahwa industri gas, produksi,
pemeliharaan, pemasaran dan derivatnya dapat memberikan 15% dari
GDP Saudi disamping membuka lapangan kerja, nilai tambahan bagi
ekonomi Saudi dan meningkatkan ekspor. Organisasi Negara-Negara
Arab Pengekspor minyak (OAPEC) mengemukakan bahwa Arab Saudi
menduduki tempat pertama dalam konsumsi gas alam yaitu 765 ribu
barel per hari atau 30% dari total konsumsi negara-negara
pengekspor minyak (OPEC) dan 29,1% dari total konsumsi semua
negara Arab. Sektor gas memenuhi 43% dari total permintaan
energi Saudi. 5.
Perundingan dengan perusahaan-perusahaan minyak dunia. Perundingan
Tim Kementerian Arab Saudi yang terdiri dari Menlu Saud
Al-Faisal, Menteri Perminyakan, Ali Al-Neimi, Menteri Listrik,
Hasyim Al-Yamani dengan perusahaan-perusahaan gas raksasa Eropa
tidak mencapai suatu strategi yang dapat meneruskan perundingan.
Usul-usul yang diajukan pihak perusahaan-perusahaan Eropa tidak
berbeda dengan usul-usul sebelumnya, sementara pihak Arab Saudi
tidak bersedia memberikan konsesi. Masalah-masalah
yang menghambat perundingan a.l. masa investasi antara 25-30
tahun dan perincian proyek pembangunan terminal pembangkitan
tenaga listrik, industri desalinasi air dan petrokimia. Pada
bulan Juni 2001 Arab Saudi menjatuhkan pilihan pada Perusahaan
ExxonMobil, Shell dan 6 perusahaan Barat lainnya untuk
pengembangan tiga ladang gas raksasa. Namun penandatangan
kesepakatan akhir tertunda dua kali yaitu bulan Desember 2001
dan Maret 2002 karena terdapatnya beberapa perbedaan pandangan.
Ketiga proyek tersebut membutuhkan investasi sebesar US$ 25
milyar. 6. Peresmian
proyek gas "Hawiya" Pada
tanggal 17 Oktober 2002 Wakil PM I/Putera Mahkota, Pangeran
Abdullah bin Abdul Aziz meresmikan proyek gas "Hawiya"
dengan dana US$ 4 milyar. Proyek ini terletak 60 km sebelah
timur Propinsi Ahsa dan mempunyai kemampuan produksi 1,4 milyar
kaki kubik non-associated gas per hari. Proyek Hawiya
akan menambah cadangan gas Saudi sampai 30%. Kemampuan produksi
gas Saudi mengalami kenaikan dari 3 milyar kaki kubik tahun
90-an menjadi 5,8 milyar kaki kubik dan diperkirakan pada akhir
tahun 2002 akan naik sampai 7 milyar kaki kubik. Rata-rata
produksi gas Saudi mencapai 700 ribu barel per hari. Cadangan
gas alam Saudi diperkirakan mencapai 224 trilion kami kubik dan
merupakan cadangan gas ke-IV terbesar di dunia. Sedangkan
rata-rata produksi Saudi termasuk 10 negara terbesar dunia dan
merupakan produsen gas yang terbesar di Timur Tengah. 7.
Konperensi Energi Arab ke VII di Kairo Menteri
Perminyakan Arab Saudi, Ali An-Naimi dalam Konperensi Energi
Arab ke-VII di Kairo tanggal 11 Mei 2002 mengemukan hal-hal sbb: a.
Permintaan minyak dunia dalam 20 tahun mendatang akan
terus meningkat dan negara-negara Arab diyakini mampu untuk
memenuhi sebagian besar kelebihan permintaan tersebut mengingat
volume cadangan minyak Arab mencapai 645 milyar barel dan
memiliki kemampun penambahan produksi dengan biaya lebih rendah
dari negara manapun di dunia. Cadangan minyak Arab cukup untuk
produksi selama 85 tahun. Sementara cadangan minyak Amerika
Serikat hanya untuk 10 tahun, laut utara 7 tahun dan Rusia 21
tahun. Biaya produksi untuk 1 barel di negara-negara GCC kurang
dari US$ 2, sementara rata-rata biaya produksi dunia US$ 6. b. Arab
Saudi memberikan perhatian sungguh-sungguh bagi kestabilan pasar
minyak dunia baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Juga perhatian pada batas harga yang dapat menjamin penerimaan
bagi negara-negara produsen dan untuk memberikan andil bagi
peningkatan investasi dunia di sektor minyak sebagai sumber
utama energi. Untuk tujuan tersebut Saudi mempertahankan
kemampuan produksi tambahan dalam mengahadapi penurunan tawaran
dan permintaan yang tak terduga bekerjasama dg OPEC. c. Pada
pasca anjlok harga minyak tahun 1998, Arab Saudi menyerukan
diadakan Konperensi Para Menteri Minyak ; Meksiko, Venezuela dan
Arab Saudi untuk membentuk kerjasama yang kuat antara
negara-negara OPEC dan non-OPEC. Pertemuan tersebut diharapkan
dapat menciptakan keseimbangan pasar dan perbaikan harga.
Kelompok tiga negara tersebut terus mengadakan pertemuan secara
berkala untuk maksud yang sama. Pada akhir tahun 2000 Arab Saudi
mendukung dialog antara negara-negara produsen dan konsumen
dimana Wkl PM I/Putera Mahkota, Pangeran Abdullah bin Abdul Aziz
mengusulkan didirikan Sekretariat Jenderal Forum Energi
Internasional ke-VII. Usul tersebut mendapat sambutan baik dan
sedang dalam proses pembicaraan Anggaran Dasar, keuangan dan UU/Peraturan-peraturan. |
Copright@2001, Embassy of the Republic Indonesia Riyadh